orang bodoh, orang pintar, dan orang lain

pada zaman dahulu
ada satu wilayah
diberkati dengan hutan lebat
dan cuaca bersahabat

tapi di sana banyak orang bodohnya
mereka tidak mau diajar,
karena merasa berpikiran terbuka lagi pintar
juga tidak mau menerima kritik dan saran

sialnya
orang pintar pun hanya segelintir
tidak mau mengajar pula
malah memanfaatkan dan mencibir
serta mengakali orang yang tak sepandai mereka

orang bodoh ada yang kaya
umumnya sombong dan kurang ajar
padahal warisan dari leluhurnya

orang pintar ada yang bersahabat dengan mereka
supaya kecipratan harta alakadar
untuk ikut hidup berfoya-foya

orang bodoh yang tamak
orang pintar yang licik
walaupun tidak menjadi pemimpin resmi
namun oleh merekalah wilayah itu dikuasai
yang menguras kesejahteraannya
yang meraup kemakmurannya

orang lain yang di luar golongan mereka
cuma bisa komentar sesekali dan berdebat seadanya
lalu melanjutkan hidup seperti biasa
sampai bersentuhan garis waktunya
dengan orang bodoh dan orang pintar

bila jadi teman mereka,
akan ikut-ikutan terjerumus
bila jadi lawan mereka,
akan dimusnahkan diberangus

maka banyaklah yang memilih menghindar
menjadi asing, mencari aman, dan membiarkan
menunggu saja semampunya dan bersabar
akan siapa yang menyentuh duluan
orang bodoh dan orang pintar, atau tuhan

cuma sebentar

sabar saja,

kalau tergesa mau nikmati semua,

kalau rakus ingin miliki segala,

tak akan ada habisnya.

kerja berat, jabatan tak ada, dan kurang harta?

yang udah jadi anggota dewan saja, gaji berjuta-juta, ada yang masih cari uang sisa.

kamu kesepian, tak ada teman berbagi keluh kesah dan cerita?

yang artis populer saja, dikenal semua, dipuja di mana-mana, masih ada yang jatuh ke liang narkoba.

bumi juga sudah renta,

rentang usia manusia pun tak lagi lama.

yang mati tua tak lebih banyak dari yang muda meregang nyawa.

 

meski di dunia ini orang benar dan jujur terlihat hina dan menderita,

meski orang curang dan tamak terlihat bahagia dan mulia.

tahan dulu. tetaplah lurus. cuma sebentar lagi kok.

pemuda dan awan

bercak luka perih menggelora bercerita
tentang kisah yang terhalang hendak mengukir legenda

pemuda turun ke medan laga tanpa senjata
berjalan tak berseragam, tak ada tanda kasta
menerobos tombak dan panah yang terbang di angkasa
ia bergerilya melawan pasukan tentara
yang berkedok hendak menjadi budak istana

walau hati gelisahnya selalu menunggu berita
dan malam yang tak kunjung pagi juga
berdebar rindu akan semerbak udara
ditiupkan mesra dari awan yang didamba

kakinya melangkah lunglai ke arah telaga
menolak deras arus lahar yang jumawa
setiap darahnya keluar lagi dari luka lama
setiap itu pula dicucinya dengan air mata
kadang membekukan hati dan melelahkan jiwa
tapi ia selalu percaya di ujung nanti ada yang menyambutnya
itulah awan yang meneduhkan dalam mimpinya

meski demikian jejak pemuda tak lama pun berhenti juga
sebab awan khilaf mengkhianatinya
mengikuti kehendak permaisuri dan raja
yang tak selalu benar selamanya

sobekan-sobekan luka di badannya kian terasa meradang
tembok-tembok di sekitar rubuh menjadi kandang
rantai berkarat berapi berduri erat mengekang
gelombang demi gelombang musuh datang kembali menyerang

tersungkur ia angkat wajah coba melihat ke balik kabut
awan hanya diam sunyi berpura-pura menjadi selimut
tersenyum rapi, tertata, wangi, dan lembut
tak menenggang rasa dia telah membuat pemuda kalut

tentara merah pun berpesta dan mensyukuri
mereka mengelabu tega menenggelamkan warna pelangi

lorong putih, ruang sunyi
derap langkah serasa mendekati
mungkin telah datang yang paling pemuda inginkan saat ini
sang pencabut urat dan nadi

namun tiba-tiba jemari kecil peri
lembut menggenggam tangan pemuda pucat pasi

penat yang menginjak dan amarah yang terpendam
tangis pilu dan harapan yang tenggelam
gelap dan pedih yang memburamkan mata hati
semua luluh lantak berhamburan dan berhenti

pemuda bangkit, jangan menyerah, tetaplah bertahan

kamu bukan si rupawan berparas pangeran
tak akan dunia melihatmu dengan kasihan
mereka baru menampar dan menginjakmu
belum mencabut kaki dan tanganmu

bertarunglah kembali sampai suara sangkakala

di tempat orang-orang berpikiran sempit jadi pujaan
di masa orang-orang tak muak hidup dalam kemunafikan
di dunia orang-orang berhati dangkal mendapat kehormatan
kau akan disudutkan, dilupakan, dan ditekan

hembuskanlah nafasmu hanya di celupan nirwana
karena di kobaran durjana, kau tak akan memenangkan apa-apa

dan kamu, awan muram kelabu, hapuslah mendungmu
gunting ekor dan tebas tanduk merah itu
dengarkan kata hanya dari hatimu yang bercahaya
bakarlah kumandang tirai yang menutupinya

batu-batu kan temani kalian dalam topan
serta daun-daun kan teduhi kalian dalam hujan
salah dan benar datangnya bergantian
dan yang berakhir bahagia adalah yang bersama kebenaran

 

 

– dengan memperingati hari kebangkitan nasional, mari kita tingkatkan kesadaran diri menuju peradaban yang madani –

sajak pukul tujuh pagi

saya mau menjadi kuli
kuli bangunan
membangun sebuah istana
istana yang berwarna sederhana
sederhana tapi tetap istimewa
istimewa seperti dia
dia punya hati
hati yang sangat diharapkan
harapan saya adalah
ada lowongan menjadi kuli di sana

sajak pukul tujuh pagi,
cilegon barat, 31-8-2012,
husein azmi el firdausi

keren kan.. sajak ini tercipta setelah sms-an dengan mama pagi itu.
nanti malam insyaAllah saya akan berangkat ke bandung. mudah2an, ngga sebelahan dengan orang yang membawa ayam lagi. beginilah rasanya kerja pjka, pulang jumat kembali ahad. yah gapapalah untuk sementara ini. demi mimpi-mimpi dan cita-cita.