untuk apa?


pernahkah kau merasa betapa beberapa pelajaran yang diajarkan di sekolah itu belum pernah kau amalkan di kehidupanmu? kapan masuknya voc ke indonesia, isi perjanjian meja bundar, lapisan-lapisan langit, bulu cambuk, buffer basa, trigonometri, lengan momen, dll. pernahkah kau memakainya di kehidupan nyata ini? mgkn sebagian pernah, karena profesinya adalah guru, ilmuwan, atau dosen. hmm.. atau mgkn karena ikut lomba mata pelajaran.

namun, apa faedahnya kita belajar mitokondria, jenis2 hewan invertebrata, membelah katak, cara reproduksi platipus, dan persilangan lalat buah? bukankah lebih baik kita diajarkan budidaya gurame, atau beternak udang sekalian? dalam satu semester sudah berapa banyak juragan2 gurame yang tercipta, bisa mengurangi pengangguran dan meningkatkan ketahanan pangan.

demikian pula dengan alkena alkuna alkana, untuk apa? campur-campur bahan kimia, melihat perubahan wujud, warna, rasa dan bau. kenapa ga sekalian aja kita belajar meracik minuman herbal? mencampur jahe dengan kunir asem, atau kelapa dengan jeruk dan selasih, terus apa khasiatnya. bahkan mgkn belajar memasak nasi goreng jauh lebih berguna daripada percobaan tinta merambat di kulit jagung.

begitu juga dengan lapisan2 bumi, lapisan2 langit, dll. kalaupun mau jadi astronot, nanti pasti diajarkan lagi tentang troposfer dkk. klo memang mau belajar bumi, nanti sekalian belajar di geodesi, geologi, geofisika, pertambangan, perminyakan, dll. biar nanti bisa nambang sendiri di negeri ini. ga bergantung lagi sama freeport, chevron, dan exxonmobil. coba diganti pelajarannya jadi mengolah tanah supaya subur, menanam buah dari mulai mencangkul tanahnya, memasukkan ke polibag, memindahkan ke tanah, membasmi hamanya, pengaruh cuaca terhadap masa tanam, sampai panen.

kemudian lagi pada pelajaran matematika, disuruh menghitung sin cos tan. serius, dalam kehidupan nyata, berapa orang dari teman sekelas kau waktu sekolah dlu yg sekarang memakai sin cos tan untuk hidupnya? klo pun perlu untuk bikin gedung yang mahal dan bernilai arsitektur tinggi, atau bangunan yang sangat presisi seperti jembatan antar pulau, itu para insinyurnya pasti belajar lagi di kuliah mereka di jurusan arsitektur, teknik sipil atau desain interior. kenapa di sekolah itu tidak dibikin saja pelajaran menjual gurame atau buah2an yg tadi dikelola? mereka bisa mengaplikasikan operasi tambah, kurang, kali, bagi. berapa pupuk, berapa modal, berapa diskon klo orang beli banyak. jadinya masih kelas 2 sma udah bisa memproyeksikan keuntungan, bukan memproyeksikan segitiga.

lalu sebenarnya untuk apa juga kita belajar tentang megantropus, punden berundak-undak, revolusi perancis, sejarah yunani kuno, nebukadnezar, penyebab perang dunia 1, dll selama sekian jam? menghabiskan buku, tinta, energi, waktu bermain dan bersosialisai, apakah hanya untuk ujian semester? mungkin lebih baik klo kita dlu ditunjukkan penyebab2 bencana, musibah dan penyakit. musibah kabut asap, karena orang serakah bakar hutan. banjir bandang, karena orang menebang hutan. sakit kanker paru2, sakit jantung, darah tinggi, krn merokok dan pola hidup yang tidak sehat. tapi itu dua jam setiap minggu, dan benar2 dramatis mengajarkannya, sehingga yg tertanam di benak mereka itu yg bermanfaat, tidak mau berbuat kerusakan di alam. bukan kapan terjadinya perang diponegoro.

belum lagi beberapa pelajaran2 fisika, yang untuk kasus hidup saya, cuma di lab fisika soal2 itu bisa digunakan. itupun dengan angka2 yg sudah ditentukan supaya hitungannya pas. atau soal seperti ini:

jarum panjang sebuah jam mempunyai panjang 6 cm. tentukan vektor kecepatan rata-rata ujung jarum tersebut dalam interval waktu 20 menit dari angka 12 ke angka 4. nyatakan dalam sistem koordinat, di mana sumbu x ke arah angka 3 dan sumbu y ke arah angka 12.

nyatakan dalam sistem koordinat??? kemungkinan besar sampai meregang nyawa nanti, saya tidak berurusan dengan sistem koordinat. tapi tak apa, penyelesaiannya adalah sbb:

r1 = 6j cm
r2 = (6 cos 30°i+ 6 sin 30°j) cm
= (3√3i + 3j) cm
vektor perpindahan:
∆r = r2 – r1 = = 3√3i + (3 – 6) j
= (3 √3i – 3j) cm
kecepatan rata-rata:
Vr = ∆r/∆t = (3√3i – 3 j) cm/ 20 menit
= (0,15 √3i – 0,15 j) cm/menit

sesak napas ga?

sekarang anak2 sd yang masih bau kencur harus pulang sore karena les ini itu. anak smp-nya pulang magrib. anak sma-nya pulang malam. kejahatan terhadap anak meningkat, kenakalan remaja bertambah. kontrol orang tua sudah makin berkurang karena jarang bertemu. mgkn ada yg pamit pergi les, tapi malah main ke rental ps.

menurut hemat saya, sudah saatnya sekolah berubah. andai kata para penyusun kurikulum pada jaman dulu punya pertimbangan lain, ya mungkin memang saya yang salah dalam memahaminya, mohon dimaafkan. namun bila suatu budaya sudah tidak bermanfaat lagi, apakah masih perlu kita pertahankan? untuk apa?

Advertisements

2 Responses

  1. gorjes.. kebetulan punya pertanyaan yang sama 😀

    • ya kan.. kita dipaksa belajar sesuatu yg ga kita butuhkan, jadinya tujuan utama ke sekolah adalah cuma biar lolos dari pelajaran2 tersebut, dapat nilai bagus di rapot, trus dapat ijazah. dan lanjut kuliah atau cari kerja.

      karena merasa ga butuh, banyak yg malas mempelajarinya dengan sungguh2, sehingga pada mulai belajar curang dari bangku sekolah dasar. adapun yg belajar sungguh2, rata2 setelah ujian langsung lupa tentang pelajaran itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: