cara ekspor lawan transaksi dari eSPT PPN 1111 ke e-Faktur

1. buka folder tempat anda biasa mengakses database e-SPT PPN 1111.
2. ada 2 file di sana, satu file berekstensi .mdb (icon-nya kertas dgn kunci merah jambu di kiri atas), satu lagi file berekstensi .ldb (icon-nya kertas dengan huruf a dan gembok).

file

3. copy file yang berekstensi .mdb, kemudian paste di folder terpisah. bebas buat folder di mana saja.
4. kemudian buka file yg baru di-paste tersebut dengan Microsoft Access. ketika ditanya password, ketik: espt_ppn_1111
5. pada tab sebelah kiri, klik dua kali REF_PARTNER. nanti akan muncul isi tabelnya.

ref_partner

6. lalu pada menu di bagian atas layar, pilih External Data, kemudian klik Text File.

menu

7. masukkan nama file yang diinginkan, misal “lawan_transaksi”, ingat lokasinya di mana, dan jangan lupa ganti ekstensinya menjadi .csv

csv

8. klik tombol ok, lalu finish dan close.
9. buka file .csv tadi dengan Microsoft Excel.
10. lalu ubah urutan dan isi kolom, sesuai dengan format baru lawan transaksi dari e-faktur.
pada eSPT PPN 1111, urutan kolomnya dari kiri ke kanan adalah sbb:

  • NPWP
  • Nama
  • Alamat
  • Telepon
  • Kode Pos
  • Jenis Lawan transaksi

sedangkan pada e-Faktur, urutan kolomnya dari kiri ke kanan adalah sbb:

  • LT (diisi LT, iya, ketik saja di situ huruf L dan T)
  • NPWP
  • Nama
  • Jalan (jika kosong, ketik strip -)
  • Blok (jika kosong, ketik strip -)
  • Nomor (jika kosong, ketik strip -)
  • RT (jika kosong, ketik nol tiga kali 000)
  • RW (jika kosong, ketik nol tiga kali 000)
  • Kecamatan (jika kosong, ketik strip -)
  • Kelurahan (jika kosong, ketik strip -)
  • Kabupaten (jika kosong, ketik strip -)
  • Propinsi (jika kosong, ketik strip -)
  • Kode_pos (jika kosong, ketik nol lima kali 00000)
  • Telp (jika kosong, ketik strip -)

kira-kira nanti akan jadi seperti ini:

contoh

pada eSPT PPN 1111, alamat itu hanya satu kolom, sedangkan pada e-faktur alamat itu terdiri dari banyak kolom (jalan, blok, nomor, kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi). karena saya malas memisahkan isi alamat, jadi kolom2 yg lain saya kosongkan saja. ­čść

11. simpan file csv-nya.
12. buka e-Faktur (eTaxInvoice), pilih menu Referensi, lalu Lawan Transaksi, lalu Import Lawan Transaksi.

semoga bermanfaat. ­čÖé

Advertisements

digantung kecamatan

menimbang
oleh kerana hati saya dan hatinya telah terpaut dalam sebuah mahligai yang bernama pernikahan pada hari 3, boelan 5, tahoen 14, maka ada hal-hal jang mengenai peroebahan administrasi kependoedoekan jang haroes diselesaikan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja, antara lain: perubahan ktp.

sewaktu lajang, saya terdaftar secara resmi sebagai penduduk kotamadya bandung yang jomblo dan bersahaja, sedangkan ibu suri adalah warga kotamadya bengkulu. kami berdua telah memiliki e-ktp saat itu. setelah melalui berbagai macam pengurusan surat-surat dan kelengkapan berbagai dokumen lainnya yang membuat terjadinya pengurusan badan saya juga, akhirnya kami mendapatkan ktp pekanbaru pada bulan mei 2015. iya, ktp saja. bukan e-ktp.

mengingat
hak-hak warga negara di negeri ini juga terkadang dibeda-bedakan dari jenis ktp-nya. iya, ada beberapa urusan yang tidak bisa dilakukan apabila ktp yang dimiliki belum berjenis e-ktp. percayalah.

mengantisipasi
lantaran demikian, setelah menerima ktp, saya langsung mengurus ke uptd di kantor camat untuk mendapatkan e-ktp secepatnya. pada waktu itu, syarat yang diminta petugas di sana hanya fotokopi kk 1 lembar, dan fotokopi masing-masing ktp yang hendak diubah jadi e-ktp 1 lembar. setelah itu beliau juga minta dituliskan nomor hp. katanya nanti klo sudah selesai akan dikabari lewat sms. lalu saya disuruh pulang.

menerima kenyataan
dua pekan telah berlalu, sms yang ditunggu tak kunjung tiba. yang masuk malah sms pemberitahuan bahwa kuota paket data sudah habis, dan harus diisi kembali, yang mana harganya skrg sudah melambung tinggi ga masuk akal. iya elu operator plat merah. saya ganti jadi pake kartu yg hitam aja. kuota sama, kecepatan ga jauh beda, harga setengahnya.

sebulan kemudian, pada sebuah acara kenduri di bulan juni, saya bertemu dengan pak rw. tanpa banyak cingcong lagi, saya langsung menyampaikan keluh kesah saya kepada beliau tentang e-ktp. beliau heran, katanya seminggu beres. saya disuruh datang saja langsung ke kantor camat dan menanyakan langsung ke sana, ga usah tunggu di-sms.

besoknya saya ke kantor camat, terjadilah dialog antara saya dengan petugas di sana:
“sudah dapat sms?”
“belum, pak.”
“tunggu sms dulu. klo udah di-sms, baru ke sini.”
“kira-kira berapa lama pak?”
“biasanya paling lama 2 bulan. pulang aja, nanti pasti di-sms, ga usah datang ke sini. daripada bolak-balik ke sini mau nanya ternyata belum selesai.”
lalu saya pulang dengan tangan hampa dan hati kesal.

selang beberapa hari kemudian, di koran ada berita dari pak camat di kecamatan saya. dia memberi nomor call center jika ada warga yang mau berkomunikasi dengan kecamatan. dari bulan juni sampai bulan juli saya hubungi nomor itu, jawabnya belum selesai. bulan agustus pun saya hubungi nomor itu, jawabannya tetap sama, belum selesai. kalo saya tanya prosesnya sudah sampai mana, tidak pernah dijawab. terakhir saya sms di bulan september ini kemarin, sama saja, tak ada jawabnya.

merasa
sistem seperti ini sangat tidak transparan dan menggantung harapan. saya sebagai warga hanya disuruh menunggu tanpa kepastian. klo saya datang ke sana, hanya disuruh pulang dan tunggu sms. saya pun tidak diberi tahu, sekarang prosesnya sudah sampai mana. apakah ia memang sudah diproses, atau kah ada kesalahan sehingga prosesnya tidak bisa dilanjutkan. atau tercecer. atau bagaimana, saya tidak tahu. saya cuma disuruh menanti sesuatu yang dinanti.

mengusulkan
bagaimana apabila sebaiknya dibuatkan sistem yang transparan. semacam sistem tracking-nya jne atau tiki. ketika warga memasukkan nik atau nomor kk-nya, maka dia akan tahu keberadaan dokumen sekarang sedang di mana, dalam proses apa. mungkin akan sedikit menambah kerja bagi pihak yang mengurus pembuatan e-ktp di uptd kecamatan atau di dinas kependudukan. tapi demi pelayanan warga, kenapa tidak. palingan hanya memasukkan nik saja untuk setiap disposisi atau perpindahan dokumen.

saya bisa membuatkannya klo memang belum ada. tidak perlu ada komputer di setiap meja, karena sistem ini bisa diakses melalui desktop, laptop, ataupun tablet bahkan telepon seluler. pak camat dan kepala dinas pun bisa mengetahui bagian mana yang paling lambat proses pengurusannya, sehingga bisa dievaluasi. apabila kerja di bagian itu memang berat, bisa ditambah orangnya, atau diganti alatnya.

mengharapkan
semua senang, dan menjadi lebih baik.

kesimpulan
1. persyaratan pembuatan e-ktp (apabila sebelumnya sudah punya e-ktp) cukup mudah, hanya fotokopi kk dan ktp masing-masing 1 lembar.
2. namun prosesnya masih belum transparan. ada yang sebentar, ada yang lama. apakah lamanya karena tercecer, atau tersalip, atau ada kesalahan, saya tidak tahu.
3. tidak tampak ada pungli dalam prosedur ini.
4. tapi saya bolak-balik hanya disuruh menunggu dan menunggu, tanpa kepastian.
5. bisa dibuat sistem informasi untuk memperbaiki keadaan ini. saya bersedia membuatkannya.