pemuda dan awan

bercak luka perih menggelora bercerita
tentang kisah yang terhalang hendak mengukir legenda

pemuda turun ke medan laga tanpa senjata
berjalan tak berseragam, tak ada tanda kasta
menerobos tombak dan panah yang terbang di angkasa
ia bergerilya melawan pasukan tentara
yang berkedok hendak menjadi budak istana

walau hati gelisahnya selalu menunggu berita
dan malam yang tak kunjung pagi juga
berdebar rindu akan semerbak udara
ditiupkan mesra dari awan yang didamba

kakinya melangkah lunglai ke arah telaga
menolak deras arus lahar yang jumawa
setiap darahnya keluar lagi dari luka lama
setiap itu pula dicucinya dengan air mata
kadang membekukan hati dan melelahkan jiwa
tapi ia selalu percaya di ujung nanti ada yang menyambutnya
itulah awan yang meneduhkan dalam mimpinya

meski demikian jejak pemuda tak lama pun berhenti juga
sebab awan khilaf mengkhianatinya
mengikuti kehendak permaisuri dan raja
yang tak selalu benar selamanya

sobekan-sobekan luka di badannya kian terasa meradang
tembok-tembok di sekitar rubuh menjadi kandang
rantai berkarat berapi berduri erat mengekang
gelombang demi gelombang musuh datang kembali menyerang

tersungkur ia angkat wajah coba melihat ke balik kabut
awan hanya diam sunyi berpura-pura menjadi selimut
tersenyum rapi, tertata, wangi, dan lembut
tak menenggang rasa dia telah membuat pemuda kalut

tentara merah pun berpesta dan mensyukuri
mereka mengelabu tega menenggelamkan warna pelangi

lorong putih, ruang sunyi
derap langkah serasa mendekati
mungkin telah datang yang paling pemuda inginkan saat ini
sang pencabut urat dan nadi

namun tiba-tiba jemari kecil peri
lembut menggenggam tangan pemuda pucat pasi

penat yang menginjak dan amarah yang terpendam
tangis pilu dan harapan yang tenggelam
gelap dan pedih yang memburamkan mata hati
semua luluh lantak berhamburan dan berhenti

pemuda bangkit, jangan menyerah, tetaplah bertahan

kamu bukan si rupawan berparas pangeran
tak akan dunia melihatmu dengan kasihan
mereka baru menampar dan menginjakmu
belum mencabut kaki dan tanganmu

bertarunglah kembali sampai suara sangkakala

di tempat orang-orang berpikiran sempit jadi pujaan
di masa orang-orang tak muak hidup dalam kemunafikan
di dunia orang-orang berhati dangkal mendapat kehormatan
kau akan disudutkan, dilupakan, dan ditekan

hembuskanlah nafasmu hanya di celupan nirwana
karena di kobaran durjana, kau tak akan memenangkan apa-apa

dan kamu, awan muram kelabu, hapuslah mendungmu
gunting ekor dan tebas tanduk merah itu
dengarkan kata hanya dari hatimu yang bercahaya
bakarlah kumandang tirai yang menutupinya

batu-batu kan temani kalian dalam topan
serta daun-daun kan teduhi kalian dalam hujan
salah dan benar datangnya bergantian
dan yang berakhir bahagia adalah yang bersama kebenaran

 

 

– dengan memperingati hari kebangkitan nasional, mari kita tingkatkan kesadaran diri menuju peradaban yang madani –
Advertisements