terjebak dalam ruang nostalgia

ketika mendengar kata bandung, orang biasanya dapat langsung membayangkan berbagai hal yang terkait dengannya. tempat makan yg puas, belanja macam2 busana masa kini, lahirnya komunitas2 kreatif, pesantren aa gym, itb, unpad, kembang, dsb. maklum, kota ini sudah berusia tua, terkenal, dan letaknya dekat dgn ibu kota, jadi mudah dikunjungi dan sering terekspos oleh media.

tentu selain bandung juga ada kota2 lain yg bisa membuat orang langsung membayangkan sesuatu saat mendengar nama kota tersebut. misalnya jogja, denpasar, surabaya, palembang, padang, dll. namun sayangnya, masih ada juga kota2 yg ketika disebut namanya, kebanyakan orang tidak bisa membayangkan apa2, bahkan mungkin baru mendengar nama kota tersebut. saya dlu mengalaminya waktu memberi tahu asal kota sma saya sewaktu tahun2 pertama kuliah di bandung. kota apakah itu? nanti saya beri tau di akhir tulisan ini.

ambil contoh, saat mendengar kata makassar, apa yg terbayang? sultan hasanuddin, pinisi, cotto, palu konro. saat mendengar kata jambi, apa yg terbayang? kalau yg bukan orang jambi, sepertinya tidak banyak hal khas yg kita ketahui dari jambi. masuk berita pun seingat saya jarang. mungkin memang saya yg kudet (kurang update). ya apalagi memang saya jarang nonton atau baca berita. saya mendengar berita. bukan dari radio, tapi dari celotehan teman2 saya di kantor. itu baru jambi yg levelnya kota (setahu saya, kota jambi adalah juga ibukota provinsi jambi), bagaimana dengan yg levelnya kabupaten, apalagi level desa. masih banyak yg saya tidak tahu.

tapi jambi (bagi saya) msh bisa bersyukur, karena ketika namanya disebut, orang tidak langsung ingat pada suatu musibah atau bencana alam, seperti yg dirasakan oleh berbagai kota atau daerah lain. provinsi aceh, sebelum tahun 2004 dikenal orang dengan pahlawan-pahlawan mereka yg gagah berani: cut nyak din, teuku umar; makanan mereka yg eksotis: mie aceh; pulau sabang; dan tentu saja kemegahan sinkronisasi tari saman. tapi setelah tgl 26 desember 2004, orang tidak akan pernah tidak bisa ingat tsunami apabila mendengar nama aceh disebut. dari mana? dari aceh.. waa, waktu tsunami gmn?

namun ada juga daerah lain, yg kena musibah, tapi orang tetap tidak banyak yg tau, tidak banyak media yg mau meliput, ataupun klo tau ya hanya cukup sampai sekedar tau, krn sudah dianggap biasa, atau dianggap daerah yg tidak bgitu penting untuk dikhawatirkan. beberapa “orang mampu” yg bisa memberi bantuan pun jadi enggan krn hanya sedikit media yg meliput. atau bisa juga krn “orang mampu” itu punya media sendiri, tapi bencana itu terjadi krn salah satu perusahaan milik “orang mampu” tersebut, jadi sengaja utk tidak diangkat ke publik. supaya orang lupa. dan tidak peduli lagi.

berbicara tentang musibah, tahun 2014 ini diawali dengan terjadinya berbagai macam bencana alam di beberapa wilayah nusantara, salah satunya adalah banjir. banjir hari ini, tidak hanya terjadi di jakarta. tapi juga terjadi di banyak daerah2 lain di indonesia. sepertinya ada di antara daerah2 tersebut yg tidak terbidik kamera fotografer koran nasional, apalagi masuk televisi. sepertinya. jadi kebanyakan orang tidak mengetahui mereka sedang dalam musibah. sedangkan daerah yg banyak diketahui orang sedang kena musibah saja, belum tentu kebagian bantuan. apalagi yg tidak diketahui. itu baru banjir. mgkn ada musibah2 lain, seperti gunung meletus, yg setelah 6 bulan berlangsung, baru mulai gencar dibantu berhubung sudah dekat waktu pemilihan.

baiklah, sebagai lelaki sejati, saya secara refleks tentu akan menepati janji saya tadi. kota yg saya sebutkan sebagai asal kota sma saya waktu awal2 kuliah di bandung adalah kota bengkulu. ketika disebut bengkulu, apa yg kamu bayangkan? kalimantan? riau? ya, kamu salah. kota bengkulu adalah ibu kota dari provinsi bengkulu yang terletak di pulau sumatera. termasuk dekat dengan jambi. dan saya masih tidak begitu akrab dengan jambi.

kota bengkulu mengajarkan saya tentang gempa. setelah gempa besar melanda suatu daerah yang ada penduduknya dan menghancurkan bangunan2 yg ada di situ, apakah yang mereka lakukan? ada dua tipe. yg pertama: move on, alias pindah ke daerah yang aman (secara geografis jauh dari lempeng2 yg patah, jauh dari gunung berapi aktif, dan blm ada sejarah terkena gempa). yg kedua, bagi yg gagal move on alias stuck on you alias masih terjebak dalam ruang nostalgia, maka mereka akan tetap kembali ke rumah mereka yg hancur itu, membangun kembali dari awal, tapi kali ini lebih kuat. pondasi yg lebih dalam mencengkram dan kokoh, tiang yang lebih rapi tersusun dan tangguh menopang, serta atap yg tegar melindungi namun tetap ringan.

kalau untuk kota2 yg lain, yg daerahnya sudah jd langganan musibah, misalnya banjir, coba cari apa yg bisa dipelajari. mungkin jangan lagi buang sampah ke sungai, selokan dibersihkan, tanggul2 jangan dijebol, stop menebang pohon2 demi membuka lahan baru untuk bikin mall, atau klo memang sudah ga bisa lagi dihindari (misal krn ketinggian datarannya sudah lebih rendah dr permukaan air laut, hujan deras sepanjang tahun, dan banyak faktor lainnya), ya move on saja.

semoga badai di negeri ini segera berlalu. digantikan oleh sinar matahari yg berhias pelangi.

salam super.

junior.