mama, tere liye, dan istri si kancil

ya, alhamdulillah ya, beberapa hari yang lalu saya diberi kesempatan sama Allah untuk pulang ke rumah orang tua saya di pekanbaru untuk merayakan hari lebaran bersama sanak famili. di rumah, mama memberikan saya setumpuk kertas berisi hasil ketikan beliau dan menyuruh saya membacanya. ya, mama saya sedang dalam proses menjadi penulis buku.

beberapa bulan yang lalu, teman saya bayu sudah berhasil menetaskan sebuah buku yang berjudul anak-anak angin. buku tersebut menceritakan tentang keping perjalanannya di bibinoi, halmahera selatan, sewaktu menjadi pengajar muda. dan sekarang, saya sudah dihadapkan pada tulisan mama, yang mau dia terbitkan juga menjadi buku. sedangkan saya sendiri, membaca saja saya sulit mau nulis blog secara rutin tiap bulan saja susah. belum ada ide.

seandainya hidup saya penuh dengan kejadian-kejadian menarik, mungkin saya bisa juga membuat tulisan yg catchy dengan mudah. misalnya tiba-tiba ibu kos saya memelihara harimau bengali dari india, atau ketua rt di lingkungan kosan saya ternyata seorang balerina, atau juga petugas kebersihan ternyata mempunyai gerobak sampah yang merupakan mesin waktu, tentulah saya akan bisa membuat tulisan yang menarik (kemungkinan). tapi klo benar ada kejadian begitu, semua orang juga bisa toh. apa spesialnya. tinggal tulis saja.

mama bilang, waktu dia ke sekolah adek saya, kebetulan lagi ada acaranya tere liye. tere liye berpesan, penulis yang baik itu bukan hanya yang punya ide, tapi yang punya sudut pandang berbeda dari orang banyak. di situ tere liye memberikan sebuah kata, kemudian para hadirin disuruh membuat suatu paragraf dari kata tersebut. kata yang diberikan adalah “karlovsky”.┬ásalah satu hadirin ada yang membuat paragraf yang (seingat saya) mama bilang seperti ini:

papaku bernama karel. mamaku bernama lova. waktu aku lahir, aku langsung menatap langit. maka aku diberi nama karlovsky.

simple tapi tetap keren. masterpiece. itu pikir saya dalam hati. saya tidak akan pernah terpikir bisa membuat paragraf seperti itu jika saya berada di acara tere liye tersebut.

maka sekarang, mumpung saya tidak punya ide untuk menulis blog, saya tantang diri saya untuk bisa menulis beberapa paragraf hanya dengan modal satu kata. di sini, di ruang dingin dan lembab serta berbau tak sedap, berukuran 1,5 kali 1 meter, yang bernama kamar mandi kosan ini, dalam keadaan jongkok, saya akan mulai berpikir.

apakah satu kata itu? saya putar mata saya ke sekeliling kamar mandi ini. akhirnya saya menemukan satu benda yang menarik, pasak pintu kamar mandi kosan yang terbuat dari gagang sikat gigi anak ibu kos. di situ ada gambar jerapah. ya, satu kata itu adalah; jerapah.

pasak jerapah

oke,
bersedia..
bersiap..
yak, mulai!

kancil adalah binatang yang cerdik tetapi sangat nakal. namun sebenarnya tidak semua kancil itu nakal. salah satu kancil yang nakal bernama bimbi, sedangkan suaminya yang tidak nakal bernama bambang.

bambang sudah gerah dengan tingkah istrinya yang suka nakal. lalu ia membuat aturan, setiap istrinya itu melakukan kenakalan, maka badannya akan diolesi satu bercak lumpur. namun, sampai tubuhnya dipenuhi bercak-bercak lumpur, si bimbi tak kunjung jera.
maka bambang mengambil tindakan yang lebih tegas, kali ini hukuman fisik yang lebih ekstrim. “mama, kama mama kufanya tabia mbaya tena, baba kuvuta shingo mama hadi,” ujar bambang. artinya adalah: “mamah, apabila mamah melakukan perbuatan nakal lagi, papah akan tarik leher mamah ke atas.”

oleh karena sering ditarik, hari demi hari leher bimbi jadinya memanjang. setiap lehernya ditarik, bimbi akan berteriak, “babaa, huruma ba.. hurumaa.. si itakuwa mama kufanyika tena ba.. mama na anahofia ba.. mama anahofia baa.. anahofia ba..” yang artinya: “papahh, ampuun pah.. ampuun.. ga akan mamah ulangi lagi pah.. mamah udah jera pah.. mamah jera pahh.. jera pah..” akhirnya, sejak saat itu, hewan mirip kancil, dengan bercak-bercak coklat, dan berleher panjang, dikenal dengan nama jerapah.

 

 

 

 

Advertisements