uang seribu dan seratus ribu


saya mendapatkan cerita ini dari papa kemarin malam. mungkin ada diantara kamu yang sudah pernah mendengar ceritanya, tapi tidak apa-apa. namanya penceritaan kembali, besar kemungkinan tidak sama dengan cerita aslinya, tapi karena saya juga dipanggil sebagai si tampan dari barat, maka tidak apa-apa. tanpa berbual-bual lagi, mari kita mulai saja cerita ini, judulnya: uang seribu dan seratus ribu.

pada suatu hari, dicetaklah uang seribu dan seratus ribu. mereka sudah menganggap satu sama lain sebagai saudara kembar, karena mereka dilahirkan pada waktu yang bersamaan. mereka sangat dekat dan akrab, hingga tibalah saat perpisahan yaitu ketika mereka harus diedarkan ke masyarakat.

6 (enam) bulan kemudian, uang seribu dan seratus ribu bertemu kembali di dompet seorang ibu rumah tangga yang juga merupakan istri dari seorang pengusaha. maka mereka pun melepas rindu..

e, ih, seribu, badan kamu kok jadi begitu, lecek, kumal, lusuh, bau, dan pudar.. apakah yang telah terjadi padamu? aku tak suka kamu begitu..
bgini seratus ribu, semenjak diedarkan dulu, aku berpindah-pindah dari tukang ikan, abang becak, mamang angkot, mbok jamu, dan lain-lain. sampai tadi ibu ini membeli sayur bayam seikat dengan harga 4000, dia bayar dengan uang 5000, didapatlah aku sebagai kembaliannya.
hoo.. begitu..
kamu sendiri, kok kamu masih wangi, rapi, necis dan tampan sama seperti waktu lahir dulu, seratus ribu?
oh, tentu saja, karena aku berpindah-pindah di kalangan pejabat, hotel bintang lima, restoran mewah, anggota dpr yang ga tau malu yang hanya memikirkan kesenangan sendiri dan melupakan neraca sang pencipta, sampai ke pengusaha yang memberikan uang belanja untuk istrinya ini. itu semuanya full ac looh.. aku jadi kasian sama kamu..
halah, full ac, kaya bus antar kota aja.. aku tidak apa-apa kok, walaupun begini, aku tetap bahagia dan senang dengan hidupku..
ohya? kenapa..
iyaa, karena selain berpindah-pindah di tangan rakyat jelata, aku juga sering bersilaturahmi dengan rekan-rekanku sesama uang seribu di celengan masjid.. kami berkumpul beramai-ramai disana dan aku ga pernah tuh melihat rekan-rekan kamu di sana..

yaah, begitulah cerita uang seribu dan uang seratus ribu. sering kita merasa berat menyumbangkan uang sepuluh ribu ke mesjid, tapi sangat ringan mengeluarkannya untuk membeli pizza hut, kfc atau mc donald. cari dulu uang seribu atau dua ribu, kalau ada, baru disumbangkan. šŸ˜¦

sekarang sudah 24 ramadhan. bila kita tidak mampu lagi meningkatkan ibadah kita karena halangan fisik, misal mau teraweh dan memperbanyak sholat sunah tapi betis sudah parises, mau ngaji tapi matapun sudah rabun. maka tingkatkanlah dari segi jumlah sedekah kita. jika biasanya ga pernah nyumbang ke mesjid lebih dari rp8900, maka cobalah sekarang sumbang 9000. kalau tidak bisa juga karena keuangan sedang sekarat, maka carilah ibadah-ibadah lain yang bisa anda tingkatkan sebanyak-banyaknya. minimal anda mengajak orang untuk meningkatkan ibadahnya dengan cara menyuruh mereka membaca blog saya ini, ehe. šŸ˜†

akhirnya, bagi teman-teman yang sudah mulai sibuk menyiapkan kue kering, hati-hati jangan sampai gosong. bagi yang sedang mau beli baju, jangan kalap sampai menjual tanah leluhur. bagi yang akan mudik, berhati-hatilah di jalan..

Advertisements

2 Responses

  1. iyaaah uchenk bner banget kecemburuan sosial antar mata uang yaak..
    klo tar jadi denumerisasi brarti gak ada 100.000 ribu lagi yak jadiny 1000 paling gede.. šŸ˜€

  2. kalo denumerisasi lebih mending sedikit si daripada devaluasi.. šŸ˜†

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: